Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Fantasi: Topi Ajaib

Topi Ajaib

Hai, Namaku Digeon Harley. Orang-orang biasa memanggilku Harley. Setai orang tentunga punya mimpi, termasuk juga diriku. Aku selalu bermimpi bahwa aku ingin menjadi seorang penyihir. Aku sadar, mimpiku itu adalah suatu hal yang mustahil. Namun, suatu hari mimpiku itu terwujud saat aku menemukan sebuah topi ajaib.

Topi Ajaib
Topi Ajaib (Ilustrasi)

Kejadian itu bermula ketika kami sekeluarga seusai makan malam.  Ketika aku selesai makan malam, aku langsung menuju ke kamarku untuk tidur. Namun, tiba-tiba ada suara seperti orang yang sedang mengetuk pintu rumahku. Pada saat itu, ibuku sedang membereskan sisa-sisa makan malam sedangkan ayahku sedang asyik menonton siaran bola di ruang keluarga. Anehnya, hanya aku yang mendengar suara ketukan tersebut.

“Siapa malam-malam begini datang ke rumahku?” tanyaku dalam hati.

Aku takut, tetapi karena aku penasaran, aku memberanikan diri untuk membuka pintu. Ketika kutengok keluar pintu, ternyata tidak ada siapa pun  dan hanya ada sebuah kotak kardus yang lusuh  di depan pintu.

Aku pun membawanya ke kamar dan kotak itu ternyata isinya sebuah topi. Topinya sangat bagus dengan warna coklat tua dan hiasan warna emas di sekelilingnya. Meskipun modelnya sedikit terlihat tua, tetapi aku menyukainya. “Wah, topinya bagus! Akan aku bawa ke sekolah, besok pagi.” gumamku. Lantas, aku menaruhnya di laci dan aku pun beranjak untuk tidur.

Keesokan harinya, aku bersiap=siap untuk pergi ke sekolah, aku memakai topi tersebut. Saat aku pulang sekolah, aku merasa aneh dan serasa ada yang ganjil dalam tubuhku. Tiba-tiba semua ruangan menjadi gelap dan topi tersebut berada di bawah kakiku. Topi tersebut membawaku terbang ke dimensi lain. Sebelum membawaku ke dimensi lain, topi tersebut berkata, “Harley, kamu akan aku bawa ke dunia penyihir selama satu tahu.”

“Lama sekali, bagaimana kalau keluargaku cemas dan mencariku?” tanyaku.

“Tenang saja, satu bulan di sana sama dengan lima menit di dunia nyata. Di dunia nyata pun, tubuhmu dibuat seolah-olah sedang tertidur, jadi tidak ada yang khawatir denganmu.” Jawabnya.

“Berarti di dunia nyata aku pergi sekitar selama satu jam?” tanyaku lagi untuk memastikan.

“Benar,” jawabnya singkat.

Selang beberapa waktu, aku sudah berada di dunia sihir. Saat tiba, aku langsung berdiri di pusat kota. Sebuah kota yang mewah dan aneh karena banyak orang yang terbang dengan naik sapu.  Aku merasa kebingungan. Akhirnya, ada dua orang yang mendatangiku. Ia berkata, “Hei, apakah kau tersesat?’

“Ya, aku tak tahu tentang kota ini.” Jawabku penuh kebingungan.

“Jadi, kau orang baru di kota ini? Kota ini bernama Leverland,” ucapnya.

“Baiklah, akan aku ajak kau keliling kota ini, tetapi sebelum itu, kita kenalan dulu, namaku Berly” ucap Berly sambil menyodorkan tangan.

“Namaku Nerta Hilson,” ucap seseorang di samping Berly..

“Namaku Gideon Harley, salam kenal Nerta dan Berly,” jawabku.

“Kalau begitu, ayo kita keliling kota ini,” seru Nerta.

“Ayo, tetapi aku tidak bisa sihir,” ujarku.

“Bagaimana kalau kamu aku daftarkan ke Academy Sihir? Nanti di sana kamu bisa belajar sihir bersamaku dan juga Berly” jelas Nerta.

“Baiklah, akumau,” jawabku.

“Ayo keliling kota,” ucap Berly.

“Ayo,” jawabku dan Nerta serentak.

Seusai berkeliling kota dan menikmati kota Leverland, Berly dan Nerta mendaftarkanku di Academy Sihir. Aku pun diterima.

Mulai besok kamu boleh sekolah, kami akan menjemputmu.  Di mana rumahmu?” tanya Nerta.

“Aku tidak punya rumah,” jawabku sambil menunduk.

“Kalau begitu, kamu tinggal di rumahku saja,” jawab Berly sambil menepuk pundakku.

“Memangnya boleh?” tanyaku.

“Tentu saja boleh, kita kan teman,” Berly menjawab dengan senyum.

“Ya sudah, sampai jumpa besok,” ucap Nerta sambil melambaikan tangan.

“Sampai jumpa,” ucapku dan Berly sambil membalas lambaian tangan juga.

Kehidupanku di sana baik-baik saja. Kami bertiga pun menjadi sahabat. Aku mempunyai banyak teman dan sudah mahir dengan ilmu-ilmu sihir. Sangat menyenangkan. Setelah sekian lama aku di sana, sampai akhirnya perpisahan datang juga. Kurang lebih sekitar satu minggu sebelum aku kembali ke dunia asalku,  aku menemui Berly dan Nerta di sebuah taman dekat Academy Sihir. Aku menjelaskan tentang aku yang akan kembali ke dunia asalku. Mereka pun tekejut dan terlihat sedih.

“Jadi, dalam waktu seminggu lagi, kamu akan kembali ke duniamu?” tanya Berly dengan menahan tangis.

“Ya,” jawabku singkat sambil menenangkan Berly.  

“Bagaimana jika dalam satu minggu ke depan kita menghabiskan waktu bersama-sama untuk membuat kenangan. Dari pada sedih terus.” Ucap Nerta

“Setuju,” jawabku dan Berly serentak.

Seminggu telah berlalu. Aku, Berly dan Nerta pergi ke tempat favorit kami bertiga. Sebelum aku pergi, kami bertiga berpelukan. Aku memejamkan mata. Lantas, perlahan-lahan tubuhku mulai memudar dan menghilang.

Saat aku membuka, aku sudah terbaring di atas kasurku. Lantas aku keluar dari kamar dan menceritakan pada ibuku dan ayahku. Keesokan harinya, ibuku membuang topi tersebut. Setelah kejadian itu, aku mulai menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya.

Pengarang: Tsalitsa Nur Syaryva (SMP N 1 Sedan/ 7A/ 2020)

Pemilik hak cipta dari ide cerita semua milik siswa. Pemilik blog (Pak Guru) hanya menulis kembali dan membenahi beberapa penulisan dan gaya bahasa agar terlihat lebih menarik untuk dibaca.