Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimanakah Rasanya Naik Kereta?

Bagaimana rasanya naik kereta? Bagi sebagian orang, naik kereta itu hal yang sangat jarang sekali, khususnya bagi kalangan di daerah yang tidak dilewati jalur KAI. Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan sedetail mungkin bagaimana rasa dan suasananya naik kereta api, khususnya kereta api jalur Malang-Surabaya. Sebelumnya Jakik sudah menulis tentang prosedur memesan tiket di Stasiun Malang, kali ini melanjutkan proses perjalanan ke Surabaya, tetapi lebih berfokus pada saat ketika di dalam gerbong kereta api. Terus terang, ini memang pertama kali Jakik naik kereta, sebab itulah akan Jakik tulis dan abadikan di blog sederhana ini. Bukankah segala sesuatu itu perlu diabadikan?

Lorong Gerbong Kereta
Lorong Gerbong Kereta
Kejadian ini berlangsung pada tanggal 7 Desember 2016, Jakik liburan di Surabaya, hanya sekedar mengisi waktu luang menjelang Skripsi. Naik kereta ke Surabaya bersama kawan Jakik. Keberangkatannya cukup pagi, 4.30 AM. Memang sengaja memilih kereta paling pagi karena agar kalau sampai di Surabaya ada banyak waktu, lagi pula berangkat pagi akan melihat detik-detik matahari terbit, bukankah akan lebih romantis? (Sayangnya, Jakik tidak punya pacar) tetapi bersama sahabat sudah lebih baik dari apapun. Harga tiketnya juga terbilang sangat murah, apalagi bagi kaum mahasiswa seperti Jakik. Hanya Rp.10.000,- (Untuk tata cara pemesanan tiket, berada pada tulisan sebelumnya. Silakan Klik disini untuk dibaca jika berminat 😊😊😊😊 )  

Nah, lantas bagaimana kisah dan rasanya naik kereta untuk pertama kali?

Follow Instagram @ZackySedan
Follow Instagram @ZackySedan


Langit-langit Ber ACAwalnya Jakik (ini pendapat secara pribadi loh, tidak ada sangkut pautnya sama kawan saya, karena Jakik memang perdana) ketika masuk gerbong terasa sangat deg-degan juga, maklumlah memang pertama kali naik kereta, jadi istilah grogi itu wajarlah. Selanjutnya, ketika kereta api sudah melaju meninggalkan mantan gerbong, hati bergejolak, seakan ingin berteriak. Bukan karena takut, melainkan karena sangat senangnya bisa naik kereta. Hampir setiap menit Jakik nikmati secara perlahan nan pasti, karena bagi Jakik, momen ini begitu langka dan istimewa. Maklumlah, jika Jakik perjalanan Jepara-Malang kan biasa naik bus. Di dalam gerbong kereta juga dibebaskan mau ngapain, berjalan-jalan juga diijinin, mau menari, berjoget ria juga terserah anda, kita kan penumpang. Bahkan Jakik pun sempat guyonan sama kawan saya, kalau kereta itu goyng-goyang, bagaikan berada di ayunan yang didorong oleh Ayah dengan disertai senyuman semaca kecil.


 
Bicara soal fasilitas yang ada di dalam kereta, tentunya kereta ekonomi ya?, karena Jakik naiknya yang ekonomi. Di dalam gerbong itu dibagi menjadi dua bagian, bilah kiri dan bilah kanan. Untuk bilah kanan terdapat dua bangku kursi, sedangkan bilah kiri terdapat tiga bangku kursi. Tentunya saling berhadap hadapan. Diantara bangku-bangku yang saling berpasangan layaknya suami istri, terdapat pula colokan, charger, stopkontak, atau apapun terserah bagaimana Sobat Jakik menyebutnya, yang jelas buat mencharger HP atau sebagainya. Untuk di bagian langit-langit gerbong kereta api bagian dalam juga terdapat AC yang bergelantungan meniupi penumpang, agar tidak kepanasan, meskipun tidak terlalu terasa dinginnya (mungkin karena Jakik naik Ekonomi, sesuai harga lah). 
Bangku dalam Gerbong
Bangku di dalam Gerbong
Nah, satu lagi. Jika ada yang bertanya. Kalau sudah ada di dalam kereta kita ngapain? Bagaimana dengan tiketnya? Sobat Jakik tinggal duduk di kursi sesuai nomornya masing-masing. Nanti akan ada petugas (macam seorang security, lah) yang berjalan keliling meminta untuk menunjukkan tiket masing-masing penumpang, ketika menunjukkan tiket, pak petugas akan memberi tanda pada tiket kita kalau tiket kita valid dan asli. Singkatnya kayak di cepret pakai alat, enath apa namanya. Hal yang menjadikan Jakik penasaran, apakah seandainya ada penumpang yang naik kereta, tetapi ternyata dia tidak memiliki tiket/ tiketnya hilang. Apakah penumpang tersebut akan diturunkan secara paksa? Nah, mungkin sobat Jakik ada yang berniat mempraktikannya.

Cukup sekian, dan Salam Chappappa!!