Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tahun Kedua Menjadi Wali Kelas || VII D (2019/2020)

Lensa Cerita || Ini adalah tahun kedua saya menjadi wali kelas. Beberapa waktu lalu saya sempat menuliskan tentang bagaimana rasanya menjadi wali kelas. Tulisan ini mungkin tidak akan begitu jauh berbeda dengan tulisan serupa yang kutulis sebelumnya.

Pada tulisan ini, saya akan mebagikan sedikit kebahagiaan-kebahagiaan yang saya lalui bersama kelas VIID ini. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, bahwasannya setiap anak itu istimewa. Begitu pula pada tahun ini, siswa-siswaku begitu istimewa.

V II D
VII D SMP N 1 Sedan

Saya pun tak terlalu peduli jika memang terkadang beberapa guru lainnya tidak terlalu menyukai kelas ini. Karena memang kenyataanya kelas ini terbilang cukup gaduh di antara kelas-kelas lainnya. Selamanya saya tetap membanggakan kelas saya ini. Bukankah itu memang tugas wali kelas? Sama halnya yang selalu membangga-banggakan anaknya sendiri.

Pernah, terjadi sebuah insiden di kelas saya, tentang kehilangan hati. Hati yang sudah dikumpulkan bersama secara serempak untuk kebutuhan hati pula. Tidak diketahui siapa yang telah mengambil hati itu. Hati kecil yang tak berdosa. Di lain hal, sang pemilik hati memiliki hati yang lebih besar dibanding hati kecilnya yang diambil orang lain. Semoga saja, sang pemilik hati tetap menjadi pemilik paling tabah.

VII D
Satu tim

V II D
Susunan duduk

Dalam foto di atas terdapat dua siswa kesayangan saya yang tak mengikuti foto. Mereka berdua sedang tidak berangkat sekolah. Mungkinkah sedang mengumpulkan kepingan hati? Meskipun demikian, aku tetap menyayangi mereka. Tak apa jika tak mendapat porsi dalam foto. Tapi akan tetap menjadi bagian dari kelas ceria VII D. Semoga terus mengukir canda nan tawa tanpa air mata. 

Pada tahun inilah, saya sedikit terluka. Satu minggu penuh saya meninggalkan kewajiban sebagai guru. Bukan karena malas, tetapi karena saya sedang terluka dan mengakibatkan terbaring di rumah sakit. Saya teejangkit DB dan gejala tipes. Salah satu siswa kesayanganku datang menjenguk, meskipun hanya beberapa saat saja, saya cukup bahagia saat itu pula. 

Mungkin, hanya itu saja. Belum begitu banyak kisah yang bisa kuceritakan saat ini, karena mungkin belum begitu lama saya menjadi Wali Kelas di kelas VII D ini. Di lain waktu, saya akan mencoba menuliskan kembali tentang kelas sederhana penuh tawa ini. Terima kasih teruntuk anak-anak kesayanganku. Aku sayang kalian.

Cukup sekian dan Salam Chappappa!