Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pelatihan Jurnalistik bersama Okezone.com

Salam Literasi. Sabtu, 26 Oktober 2019 saya melaksanakan pelatihan jurnalistik bersama okezone di SMP N 2 Rembang. Lebih tepatnya bukan saya, saya hanya pendamping saja. Mendampingi siswa untuk mengikuti pelatihan jurnalistik. Narasumbernya yaitu Bapak Abdi sang Wakil Pimpinan Redaksi Okezone.com (MNC Grup). Meskipun hanya sebagai pendamping, saya mendapat banyak informasi yang dapat saya terapkan, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk dibagikan ke siswa-siswaku yang lain.
 
Lantas, apa saja sih? Yang saya peroleh selama pelatihan. Berikut akan saya ringkas seringkas-ringkasnya agar dapat menjadi memori diri untuku atau seseorang yang suatu ketika membuka blog sederhana ini.

Wakil pemimpin redaksi okezone.com
Wakil Pemimpin Redaksi Okezone.com

Tips Menulis ala Okezone.com
Menulis, itu tidak terlalu susah kok, meskipun tidak bisa dibilang gampang pula. Semua tergantung kepribadian masing-masing saja. Hal utama yang paling diperlukan untuk bisa menulis yakni harus menjadi pengamat yang baik, mengamati lingkungan sekitar misalnya.
 
Hal sepele pun dapat menjadi tulisan yang menarik. Misalnya, pengalaman pribadi yang menyenangkan atau menyakitkan, kejadian/peristiwa yang berkaitan dengan lingkungan sekolah, dan bahkan saat sedang jajan di kantin pun dapat dijadikan sebagai bahan tulisan. Seperti ketika menceritakan teman baru yang begitu mengagumkan, atau keseharian sebelum hingga saat berada di sekolah.
 
Pentingnya sebuah data untuk menjadi bahan tulisan. Untuk mengumpulkan data, perlu yang namanya riset terlebih dahulu. Mengamati secara detail tantang peristiwa-peristiwa yang akan ditulis. Risetlah sebuah kejadian berdasarkan sudut pandang pribadi penulis yang paling enak diceritakan, dengan catatan harus tetap objektif. Ketika menulis sebuah kisah, baik itu cerita maupun artikel diperlukan situasi yang dramatis. Semakin dramatis akan semakin menarik cerita/artikel itu ditulis. Misalnya, 'Karena Stok Makanan Terbatas, Kantin Sekolahku Selalu Ricuh'.
 
Dramatis bukan berarti penambahan sesuatu hal yang tak penting, tapi untuk penghidupan cerita. Misalnya lagi, ketika menonton sebuah drama percintaan di televisi tentunya akan sangat membosankan ketika hanya pengenalan terus tiba-tiba selesai  happy ending/sad ending. Bukankah malah membosankan? Maka perlulah untuk mendramatisir sebuah cerita.
 
Untuk mengembangkan cerita, perlu riset dan data yang benar-benar riil. Bukan data yang disimpulkan sendiri dari sudut pandang pribadi. Karena objektif itu kunci utama sebuah penulisan, khususnya ketika menulis sebuah berita. Jangan sampai berita yang ditulis menjadi berita hoaks, karena ada sebuah pepatah yang mengatakan 'Berita Hoaks Membunuhmu'. Oleh karena itu, jangan mengumpulkan data yang sifatnya setengah-setangah, ceritakanlah sampai tuntas.
 
Hal penting lainnya, ceritalah menggunakan bahasa yang enak dipahami. Jangan menggunakan bahasa-bahasa istilah yang susah dimengerti masyarakat umum. Karena tidak semua pembaca tulisanmu itu dari masyarakat terdidik yang mengetahui apa saja. Gunakanlah bahasa yang santai dan mudah dipahami.

Siswa Pelatihan Literasi
Nasywa, Shintia,  Nawa, Nada, dan Devita

Itu saja sih, yang dapat di ceritakan dan dokumentasikan. Tulisan yang saya uraikan di atas bukanlah murni dari ide saya, semua dari materi yang disampaikan narasumber, selanjutnya saya menarasikan menggunakan bahasa penceritaan pribadi. Saya lupa menggambil foto bersama siswa-siswaku saat proses mengikuti pelatihan. Tapi gambar siswi-siswi yang ceria di atas mungkin dapat mewakili, karena mereka semua ada di lokasi saat pelatihan jurnalistik. Meskipun tidak semua dalam satu ruangan.
Cukup Sekian, Salam Literasi dan Salam Chappappa!