Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Struktur dan Contoh Teks Fantasi

Cerita fantasi merupakan sebuah karya tulis yang dibangun menggunakan alur cerita yang normal, hanya saja memiliki sifat imajinatif dan khayalan yang terkandung di dalamnya. Pada cerita fantasi, hal yang bersifat tidak mungkin (hal yang tidak masuk akal) merupakan hal yang biasa dan bukan hal yang aneh, bahkan sengaja dilebih-lebihkan, jika dilogikakan, tidak akan pernah terjadi di dunia nyata.

Untuk pemahaman lebih lanjut tentang teks fantasi dapat dibaca di Pengertian, Ciri, dan Jenis Teks Fantasi.

Sama halnya dengan teks-teks lain, teks fantasi juga memiliki struktur.



Struktur teks fantasi (imajinasi)

  1. Orientasi (Pembukaan): yaitu di mana pengarang memberikan pengenalan tentang tema, penokohan, dan sedikit alur cerita kepada para pembaca.
  2. Komplikasi (konflik): bagian yang terjadi permasalahan dimulai dari awal hingga menuju puncak masalah.
  3. Resolusi: bagian ini merupakan penyelesaian dari permasalahan atau konflik yang sedang terjadi. Resolusi merupakan bagian penentu yang mengarah pada bagian akhir cerita.

 Contoh Teks Fantasi

Kekuatan Ekor Biru Nataga

    Seluruh pasukan Nataga sudah siap hari itu. Nataga membagi tugas kepada seluruh panglima dan pasukannya di titik-titik yang sudah ditentukan. Seluruh binatang di Tana Modo tampak gagah dengan keyakinan di dalam hati, mempertahankan milik mereka. Hari itu,  sejarah besar Tana modo akan terukir di hati seluruh binatang. Mereka akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk membela tanah air tercinta.

    Saat yang ditunggu pun tiba. Mulai terlihat  bayangan  serigala-serigala yang hendak keluar dari kabut. Jumlah pasukan cukup banyak. Nataga dan seluruh panglima memberi isyarat untuk tidak panik.

    Pasukan siluman serigala mulai menginjak Pulau Tana Modo, susulmenyusul bagai air. Tubuh mereka besar-besar dengan sorot mata tajam. Raut wajah mereka penuh dengan angkara murka dan kesombongan, disertai lolongan panjang saling bersahutan di bawah air hujan. Mereka tidak menyadari bahaya yang sudah mengepung. Semua binatang tetap tenang menunggu aba-aba dari Nataga.

    “Serbuuuu …!” teriak Nataga sambung-menyambung dengan seluruh panglima.

    Pasukan terdepan dari binatang-binatang hutan segera  mengepung para serigala dengan lemparan bola api. Pasukan serigala sempat kaget, tak percaya. Cukup banyak korban yang jatuh  di pihak serigala karena lemparan bola api. Namun, pemimpin pasukan tiap kelompok serigala langsung mengatur  kembali anak buahnya pada posisi siap menyerang. Mereka tertawa mengejek binatang-binatang ketika banyak bola api yang padam sebelum mengenai tubuh mereka. Bahkan dengan kekuatan mereka, mereka meniup bola api yang terbang menuju arah mereka.

    “Hai ....! Tak ada gunanya kalian melempar bola api kepada kami!”  Seru serigala dengan sorot mata merah penuh amarah.

    Binatang-binatang tidak putus asa. Namun, pasukan serigala dalam jumlah dua kali lipat bahkan lebih dari pasukan binatang, mulai bergerak maju, seolah hendak menelan binatang-binatang yang mengepung. Binatang-binatang yang pantang menyerah juga tidak takut dengan gertakan para serigala.

    “Gunakan kekuatan ekormu, Nataga!” bisik Dewi Kabut di telinga Nataga. Nataga sempat bingung dengan kata-kata Dewi Kabut. Karena banyak bola api yang padam, Nataga segera memberi aba-aba berhenti melempar dan mundur kepada seluruh pasukan.

    Tiba-tiba, Nataga, pemimpin perang seluruh binatang di Tana Modo, segera melesat menyeret ekor birunya. Mendadak, ekor Nataga mengeluarkan api besar. Nataga mengibaskan api pada ekornya yang keras, membentuk lingkaran sesuai tanda yang dibuat oleh semut, rayap, dan para tikus. Lalu, ia melompat bagai kilat dan mengepung serigala dalam api panas. Kepungan api semakin luas. Serigala-serigala tak berdaya menghadapi kekuatan si ekor biru. Teriakan panik dan kesakitan terdengar dari serigala-serigala yang terbakar. Nataga tidak memberi ampun kepada para serigala licik itu.

    Selesai pertempuran Nataga segera menuju ke atas bukit, bergabung dengan seluruh panglima. Levo, Goros, Lamia, Sikka, dan Mora memandang Nataga dengan haru dan tersenyum mengisyaratkan hormat dan bahagia.      

   Pengarang: Ugi Agustono The Little Dragon

Setelah membaca pembahasan unsur dan contoh teks fantasi (imajinasi) yang berjudul Kekuatan Ekor Biru Nataga, sekarang... cobalah untuk berimajinasi dan berkhayal. Kalian karanglah sebuah teks atau cerita imajinasi dengan tema orang memiliki kekuatan super!
Sumber: Harsiati, T., Trianto, A., dan Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal 45-47 dan 63