Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Antara Puisi dan Prosa

Berbicara perihal sastra, maka tidak akan jauh-jauh dengan yang namanya prosa atau puisi. Pertanyaan yang mendasar dalam seseorang yang sedang mendalami puisi, apa itu puisi dan kapan puisi itu bisa disebut dengan puisi. Singkatnya seperti ini: Kapankah bahwa sebuah karya itu bisa disebut puisi? 

Prosa dan Puisi

Hal yang perlu dikuasai yakni struktural puisi dan paham betul apa itu struktur puisi. Jika struktur puisi itu sudah terpenuhi, itu sudah cukup untuk disebut dengan puisi. Meskipun, karya sastra itu sediafan apapun itu puisi. Diafan itu sejenis karya sastra yang gamblang. Untuk memahami isi dari puisi diafan, tidak perlu pemahaman yang lebih lanjut untuk memahami puisi itu, tidak perlu dipertanyakan kenapa memakai atau memilih kosa-kata ini dan itu. Berbeda dengan puisi gelap. Puisi gelap adalah puisi yang menggunakan diksi pilihan yang sangat berlebihan. Jadi, kita perlu mencari diksi yang subjektif, dengan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.

Ada juga puisi yang hanya menawarkan kesan semata, tidak terlalu penting makna dari puisi itu. Misalnya, puisi Sapardi Djoko Darmono, puisi Sutarji. itu kan hanya menawarkan kesan saja. Kesan itu suatu yang tak bisa ditanggapi dengan kata apa pun

Hal yang harus digaris bawahi. puisi dan prosa itu berbeda. Jadi, harus bisa membedakan apa iti puisi dan apa itu prosa, sebab terkadang ada sebuah puisi yang menyerupai prosa dan ada pula prosa yang menyerupai puisi. Lantas, apa perbedaan puisi dan prosa?  Simak ulasan dari Pak Zacky  yang dirangkum dari pemahaman materi kuliah Apresiasi Puisi di bawah ini.

Perbedaannya yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.  Slamet mulyana (1956) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).

Puisi:merupakan aktifitas jiwa yang menangkap kesan-kesan, kemudian kesan-kesan tersebut dipadatkan (dikondensasikan) dan dipusatkan. merupakan pancuran jiwa yang bersifat liris (emosional) dan ekspresif. seringkali kalimat dan isinya bersifat konotatif.

Prosa:merupakan aktifitas penyebaran (mendispersi) ide atau gagasan dalam bentuk uraian, bahkan kadang-kadang sampai merenik. Merenik merupakan pengungkapan gagasan yang bersifat epis atau naratif. pada umumnya bermakna denotasi, walaupun kadang ada karya yang isinya konotatif.

Dengan singkat bisa dikatakan bahwa prosa adalah pengucapan dengan pikiran dan puisi ialah pengucapan dengan perasaan. Bahasa ilmu pengetahuan ialah prosa. Di situlah pikiran dikemukakan dan pikiran yang menerima. Orang yang mengajarkan  matematik misalnya tidak akan mengemukakan perasaannya;  contoh: 1 + 1 = 2. Orang harus menerimanya saja tanpa merasakan keharuan.

Apakah ada prosa yang bersifat kesusasteraan?! Prosa baru bersifat kesusasteraan apabila memenuhi syarat kesenyawaan yang harmonis antara bentuk dan isi. Prosa biasa adalah laksana angka-angka yang berisi pengertian yang tetap, prosa kesusasteraan laksana manusia hidup, kesatuan tubuh dan jiwa, pikiran dan perasaan yang mengungkapkan yang serba mungkin. Perasaan itu lebih-lebih terkandung dalam puisi, tapi puisi yang baik pun tidak hanya sekadar perasaan belaka juga mengandung pemikiran dan tanggapan.

Di dalam puisi, pikiran dan perasaan menyatu seolah-olah bersayap  terbang berlalang buana ke arah yang mereka suka membawa luapan emosi dan akhirnya,  membuahkan suatu karya dengan  keindahan gaya bahasa bagaikan bunyi dan lagu dengan tekanan suara (ritme) tertentu.

Prosa pada dasarnya menyodorkan suatu cara pengungkapan yang eksplisit, mengurai atau menjelaskan segala sesuatunya. Meskipun sama-sama menerapkan pengungkapan secara eksplisit, antara prosa dengan penulisan ilmiah tampak perbedaan dalam segi penerapan keindahan bahasa dan kalau kita mengambil perbandingan dengan gerak tubuh, maka pada prosa semisal orang menari, sedangkan pada ilmu adalah gerak tubuh sebagaimana yang wajar.

Kalau dalam puisi kita berhadapan dengan suatu cara pengungkapan yang menyirat, maka dalam sajak kita tidak saja berhadapan dengan cara pengungkapan yang menyirat, tetapi juga menghadapi “materi isi” atau lebih tepatnya “sunjct-matter” yang tersirat.

Puisi dibanding prosa adalah seperti orang menari dan berjalan biasa, atau seperti orang bernyanyi dan bicara biasa. Puisi tidak mengabdi kepada otak yang berpikir melainkan perasaan yang berbicara dan ini dapat menyentuh siapa pun yang membaca atau mendengarkannya.

Pak Guru
Pak Guru Mencintai Sastra Sama Halnya Mencintai Kehidupan

Posting Komentar untuk "Perbedaan Antara Puisi dan Prosa"

Langganan