Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rasanya Menjadi Guru di Sekolah Inklusi

SMP Diponegoro (Junrejo) Batu || Besok adalah hari pelepasan saya (beserta rekan-rekan seperjuangan) di SMP Diponegoro (Junrejo) Batu. Selama enam pekan, saya harus bersandiwara menjadi seorang guru (Red: PPL). Sabtu, 27 Agustus 2016 saya (berserta tim) dibuang dan dititipkan secara resmi oleh Pihak Fakultas di Kota Batu. Sebuah sambutan hangat dari pihak sekolah kami terima dengan senyuman, gambaran kondisi sekolah secara umum pun kami simak secara seksama. SMP Diponegoro merupakan satu-satunya sekolah inklusi di Batu. Singkatnya, sekolah inklusi merupakan sekolah yang menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan anak reguler dalam satu atap lembaga pendidikan. 

Bagaimana sih? Pertama kali yang saya rasakan ketika terjun langsung di sekolah inklusi? Begini ceritanya!

SMP DIPONEGORO BATU
Berat hati rasanya, ketika saya harus ditempatkan di sekolah ini, pikiran dan perasaan terus menerus bergejolak dan ingin mengumpat, hati pun ikut bergumam, “Apakah nantinya saya bisa? Apakah saya mampu bertahan selama 6 pekan? Mampukah saya berbaur dengan mereka?”. Begitulah pikiran saya kala itu. saya pun bercengkrama dan bertanya pada rekan seperjuanganku “Apa yang kamu rasakan saat ini? Mampukah kita?”, ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata dan hanya berucap “Aku tak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan saat ini,” begitulah ucapnya.
 
Senin, 29 Agustus 2016, secara resmi saya menjadi guru dan mendapat sebutan Pak Zacky. Hari itu saya mengikuti upacara seperti halnya ketika saya masih sekolah dahulu, akan tetapi saya tidak berdiri di barisan siswa, melainkan saya berbaris di barisan guru. Sebuah kebanggan tersendiri. Lebih bangga lagi ketika pada hari Senin, 19 September 2016, saya tidak lagi berdiri di barisan siswa maupun guru, tetapi berdiri di depan podium dengan menghadap siswa. Saya menjadi Pembina Upacara layaknya Kepala Sekolah yang dihormati seluruh peserta upacara baik dari kalangan guru maupun siswa. Saya berpidato di podium memberi wejangan, nasihat, dan arahan kepada seluruh peserta. Sebuah pengalaman langka yang tidak pernah saya dapatkan di mana pun.

Pada minggu pertama di SMP Diponegoro, saya (beserta tim) hanya melakukan observasi kondisi serta suasana dan melakukan pendekatan pada siswa. Setiap pagi secara bergantian harus menjadi Pemimpin Apel pada pukul 07.50 WIB, Setiap hari Selasa dan Rabu pukul 07.00 WIB – 07.20 WIB harus menuntut siswa untuk membaca, Kamis, Jumat dan Sabtu pukul 07.00 WIB – 07. 40 WIB harus mengajari dan mendampingi siswa-siswi untuk mengaji Iqra’ (Jilid 1-6), dan saya menjadi satu-satunya guru PPL yang pernah memimpin pembacaan Yaa Sin setiap hari Kamis pukul 12.05 WIB.

Kegiatan membaca difungsikan agar siswa mahir membaca baik huruf abjad maupun huruf hijaiah. Pada dasarnya, seusia mereka seharusnya sudah mahir untuk membaca, sayangnya pada sekolah yang saya tempati ini, masih banyak siswa yang susah akan baca tulis.
 
Di sekolah ini, kegiatan belajar mengajar hanya lima hari saja, yakni Senin-Jumat. Sedangkan di hari Sabtu tidak hari libur, melainkan sebagai hari untuk meningkatkan motorik siswa. Ada yang belajar praktik membuat telur asin dan diajari bagaimana cara mencuci motor. Di sini, motor yang dicuci adalah motor milik guru. Bukan asal mencuci motor saja, tetapi siswa yang semangat dalam mencuci akan diberikan sedikit reward sejumlah uang. Jumlahnya tidak seberapa, tetapi senyum mereka begitu tulus penuh kebahagiaan ketika menerima hadiah tersebut.

Kamis, 8 September 2016, hari pertama saya mengajar di kelas. Sebuah tamparan pedas dari guru pamong yang saya dapatkan ketika evaluasi seusai mengajar. Saya gagal dalam mengajarkan materi pada siswa. Dengan hati-hati beliau berucap pada saya, “Mas, tolong dibedakan SMP Favorit lainnya dengan SMP Diponegoro, apalagi di sini banyak anak yang butuh perhatian lebih. Jadi, harus menjelaskan satu persatu secara detail dari yang paling dasar dahulu”. Selasa, 13 September 2016, saya mengajarkan kembali KD yang telah saya ajarkan pada minggu sebelumnya. Tidak ada kendala, dalam hari ini dan pertemuan-pertemuan berikutnya ketika saya mengajar di kelas. Meskipun ada beberapa siswa yang tidak mau berkomunikasi di dalam kelas. Di sini saya mengajar kelas VII (A), total ada enam anak yang membutukan perhatian lebih. Susah dan bahkan tidak bisa dalam membaca dan menulis, dan Slow Learn (respon lama dalam memahami sesuatu). 

Tiga minggu berlalu, empat minggu berlalu, lima minggu berlalu, dan enam minggu berlalu. Banyak hal yang saya jalani dan dapatkan di sekolah ini, dari menjadi Pembina Upacara, Pemimpin Apel setiap pagi, memotong-motong serta mencuci daging Qurban, mengajari siswa-siswa membaca dan mengaji, menjadi imam salat guru dan siswa, dan memimpin membaca Surat Yaa Sin bersama siswa. 

Awalnya memang saya merasa menjadi mahasiswa paling malang dan iri diantara teman-teman PPL lainnya yang ditempatkan di sekolah yang memiliki embel-embel negeri. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa semua sekolah itu sama saja, ada guru ada siswa. Bahkan, sekarang saya malahan merasa menjadi mahasiswa paling beruntung karena bisa ditempatkan di sekolah Inklusi. Ada banyak hal yang tidak mungkin didapatkan di sekolah-sekolah lainnya, di tempat ini pun banyak mengundang tanya, dan menarik untuk diteliti. Dari sudut pandang Psikologi Pendidikan, dan Strategi serta Media Pembelajaran. Seperti siswi tuna rungu sebagian dan total yang belajar menggunakan media gambar dan meningkatkan keaktifan siswa melalui pembelajaran psiko-drama (Akan diteliti diteliti mahasiswa UMM). Bahkan, saya malah berencana menyelesaikan skripsi di tempat ini. Yang terpenting, jangan pernah mengeluh sebelum menjalaninya.

Terima kasih Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Terima kasih SMP Diponegoro (Junrejo) Batu.
“Menjadi seorang guru bukan hanya mengajarkan materi pada siswa, melainkan berbagi keceriaan bersama siswa”
Kenangan, 09 Oktober 2016
Curhatan Penulis yang Gagal