Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyimpulkan Unsur-Unsur Cerita Pendek

Cerita pendek atau cerpen adalah teks yang berupa kisahan pendek. Teks cerpen biasanya tidak lebih dari 1000 kata dan dibaca habis dalam sekali duduk.Teks cerita pendek (cerpen) mengangkat persoalan kehidupan manusia secara khusus. Tema cerpen berasal dari persoalan keseharian hingga ke renungan filosofis yang dipotret dari kehidupan nyata. Tokoh dan latar bisa direkayasa demi kepentingan keindahan cerita, meskipun tak jarang bahwa cerpen terinspirasi dari kisah dunia nyata. Teks cerpen berbeda dengan teks fantasi. Teks fantasi berisi cerita khayal yang tak masuk akal atau khayalan, sedangkan cerpen latar dan tempatnya masih bisa dijangkau nalar, meskipun sama-sama cerita fiktif.


Ciri-Ciri Cerpen

Cerpen ditandai dengan jumlah karakter yang relatif kecil mencakup satu tindkan tunggal dengan satu fokus tematik. Setiap cerita tentunya memiliki unsur intrinsik, yskni latar, alur, tokoh, penohohan, tema, amanat, dan sudut pandang. Untuk lebih jelasnya pahami contoh teks yang berjudul "Pohon Keramat" dan juga unsur intriksiknya.

Pohon Keramat Yus R. Ismail

Di sebelah barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar. Disebut gunung barangkali tidak tepat karena areanya terlalu kecil. Lebih tepatnya disebut bukit. Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang, menyebutnya dengan Gunung Beser. 

Meski areanya kecil, jangan tanya siapa saja penduduk yang pemah masuk ke dalam Gunung Beser. Mereka akan bergidik hanya membayangkan keangkerannya. Mereka, dari kakek-nenek sampai anak-anak, hafal cerita keangkeran Gunung Beser. 

Saat pendudukan Belanda, di kampung saya ada seorang tokoh yang melawan Belanda dan berjuang sendirlan tanpa pasukan. Orang tersebut bemama Jayasakti. Tentu saja tokoh ini menjadi incaran Belanda untuk ditangkap dan dipenjarakan. Jayasakti lari dari kampung ke Gunung Beser dan bersembunyi agar Belanda tidak menimpakan kemarahan kepada masyarakat kampungnya. Bertahun-tahun pasukan Belanda dan centeng-centeng demang mengepung Gunung Beser, tetapi Jayasakti tidak pernah menyerah. Pasukan Belanda dengan dipandu centeng•centeng demang pernah melacak Jayasaktl ke dalam gunung. Akan tetapl, tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat. Kata orang-orang pintar, Jayasakti bersemedi dan tubuhnya menjadi pohon harum yang baunya dibawa angin ke sekitar gunung. 

Karena cerita itu dipercaya kebenarannya, tidak seorang pun penduduk berani masuk ke kelebatan Gunung Beser. Mereka menghormati perjuangan yang pernah dilakukan Mbah Jayasakti. Selain itu, konon, mereka takut masuk ke dalam gunung karena dahulu ada beberapa orang pencari kayu bakar nekat masuk ke dalam. Akan tetapi, dia bernasib seperti pasukan Belanda dan centeng-centeng demang itu, tidak bisa kembali. Siapa pun akan berhati-hati bila berhubungan dengan Gunung Beser. Para  pencari kayu bakar dan penyabit rumput hanya berani sampai ke kaki gunung. 

Sejak saya ingat, cerita yang diketahui seluruh penduduk kampung juga meliputi kharisma Gunung Beser. Tiap malam tertentu, katanya, dari Gunung Beser keluar cahaya yang begitu menyejukkan. Hanya orang tertentu yang melihat cahaya itu. Konon, seseorang dapat melihat cahaya itu dengan mata batinnya, ia termasuk orang yang bijaksana dan tinggi ilmunya. Apabila ada seorang saja dari seluruh penduduk kampung yang bisa melihat cahaya itu, artinya Mbah Jayasakti, begitu penduduk kampung menyebut penghuni Gunung Beser, melindungi kampung. Akan tetapi, ada orang yang sembrono melanggar keheningan Gunung Beser, Mbah Jayasakti bisa marah. Jangankan menebang pohon tanpa izin, masuk saja ke dalam gunung akan kualat. Bisa-bisa dianggap mata-mata Belanda oleh Mbah Jayasaktl. Itulah sebabnya penduduk kampung begitu takut mengganggu ketenangan Gunung Beser. 

Bagi saya, Gunung Beser menyimpan kenangan tersendiri. Sejak umur 5 tahun saya sering tidur di rumah Kakek. Setiap subuh Kakek membangunkan saya dan mengajak pergi ke masjid kecil di pinggir sawah. Saya yang kadang masih merasa ngantuk, begitu turun dari rumah selalu takjub melihat Gunung Beser berdiri kukuh. Saya merasa kesegaran pagi-harum dedaunan dan bau tanah-adalah bau khas Gunung Beser. Saya selalu berharap begitu turun dari rumah bisa melihat gunung itu bercahaya. 

Selesai salat, Kakek biasa mengontrol air sawah. Saya selalu menguntitnya dari belakang tanpa banyak bicara. Barangkali anak lain akan mengeluh karena air dan udara sawah dingin. Akan tetapi, saya tidak. Saya menyukai kesegaran air dan udara itu. Tidak Jarang saya mandi di pancuran sawah. 

Dari pematang yang lebar-lebar, saya menyaksikan bagaimana Gunung Beser yang sepertl patung raksasa hitam Itu lambat laun bercahaya tertimpa sinar matahari. Saya sering beranggapan bahwa cahaya itu bukan dari matahari, tetapi keluar dari hati saya sendiri. Setiap melihat dedaunan yang bergoyangan, saya sering melamun melihat Jayasakti salat di atas daun pisang. 

Bagi sawah.sawah di kampung saya, air tidak mesti diperebutkan. Gunung Beser memberikan air yang melimpah. Nama Gunung Beser sendiri berarti mengeluarkan air terus-terusan. Mata air yang berada di kaki gunung mengalirkan sungai yang lumayan besar.Sebagian air Itu dialirkan ke kampung untuk memenuhi bak-bak mandi. Sisanya yang masih melimpah mengairi sawah dan kolam. Selain itu, masih banyak mata air kecil yang dipakai penduduk sebagai pancuran. 

Oleh karena Itu, belum pernah ada berita para petani berkelahl karena berebut air. Kakek dan para petani lain juga sering mengontrol sawah pagi-pagi. Mereka bukan mengontrol takut sawah kekeringan, tetapi memeriksa kalau ada urugan kecil atau lubang.lubang yang dibuat ketam. Atau siapa tahu ada berang.berang yang menyerang kolam. Biasanya pemangsa ikan itu menyisakan kepala ikan di atas pematang. Bila hal itu terjadi, kemarahan para petani tidak akan terbendung lagi. Berang-berang itu akan diburu oleh orang sekampung. 

Saya beberapa kali melihat para petani berburu berang-berang atau tikus. Mereka mengasapi seluruh lubang yang ditemui. Bila ada buruannya yang keluar, orang-orang mengejar sambil berteriak-teriak. Tentu pemukul tidak ketinggalan ikut beraksi. Sekali berburu, puluhan tikus atau betang-berang bisa didapatkan. 

Bila panen tiba, setiap petani yang punya sawah luas akan mengadakan syukuran. Para tetangga diundang. Ikan ditangkap atau ayam disembelih. Saya selalu senang. Selain sering dibawa Kakek ke tempat syukuran, saya senang dengan hari-hari di sawah. Anak-anak seluruh kampung mengalihkan tempat bermain ke sawah. Ada yang membuat baling-baling, bermain musik dengan terompet-terompet kecil dari batang padi, atau berburu burung beker. Saya pernah mengikuti seluruh permainan itu. Saya bermain dengan anak dari kelompok mana saja. Setiap orang di kampung saling mengenal, ternasuk anak-anak. 

Bagi anak-anak, sawah adalah tempat yang paling banyak memberi kenangan. Kami mandi sore di pancuran sawah. Setiap sore, kecuali hari lumat, anak-anak belajar mengaji di masjid. Kakek awalnya mengajar, tapi akhirnya di teruskan oleh Kang Hasim. Saya menjadi anak emas apabila Kang Hasim mengajar. Selain dari Kang Hasim, saya belajar mengaji dari Kakek, bagi saya mengaji bukan hal baru. Sebelum sekolah, setiap malam Kakek mengajar saya. Maka pelajaran yang diberikan Kang Hasim kepada anak-anak lain sering merupakan hal yang sudah saya hafal betul. 

Pulang dari mengontrol sawah, saya diajak Kakek jalan-jalan ke pasar yang buka seminggu sekali. Kakek membeli berbagai keperluan sehari-hari dan saya selalu punya jajanan enak. Kalau tidak kue serabi, saya memilih kue pukis. Para pedagang itu memberikan sebungkus besar kue sebelum saya memilih. 

Saya merasa waktu itu Kakek adalah orang yang dihornati oleh penduduk kampung. Siapa pun akan mengangguk hormat apabila bertemu Kakek. Di sawah, saat mengontrol, air Kakek menjadi tempat bertanya apabila ada masalah. Dan Kakek adalah orang yang memutuskan apakah tikus atau berang-berang yang mulai merusak itu harus diburu segara atau tidak 

Sering Kakek juga diminta mengobati orang-orang yang sakit. Apalagi bila sakit Itu karena makhluk halus yang 'main-main: Bila ada orang yang kesambet oleh penghuni Gunung Besar, mereka membawanya ke rumah Kakek Saya tidak tahu cara Kakek mengobatinya. Mungkin beliau memakai doa-doa, tetapi tidak jarang Kakek malah membawa si sakit ke rumah Pak Mantri. 

Kedamaian kampung saya mulai terusik saat jalan besar menghubungkan dengan kota kecamatan dan kota kabupaten diperbesar dan diaspal. Memang aspal alakadarya, tidak sebagus sekarang. Tapi, jalan itu memberikan gejolak tersendiri. Para petani hilir mudik ke kota kabupaten menjual hasil bumi. Mak-anak remaja tidak sedikit yang kemudian meneruskan sekolah ke kota. Pembangunan pabrik-pabrik semakin santer diinformasikan orang kecamatan. 

Perkenalan kampung saya dengan dunia luar, menyadarkan penduduk bahwa dl luar sana sudah banyak yang terjadi. Kebutuhan hidup semakin meningkat. Kampung saya semakin sibuk. Ngobrol=ngobrol santai di sawah atau di masjid sehabis salat Jarang dilakukan para orang tua. Bila panen tiba undangan syukuran semakin jarang. Panen pun hanya dilakukan oleh segelintir orang, tidak lagi merupakan pesta kampung. 

Kebutuhan yang semakin mendesak itu memaksa penduduk kampung untuk memfungsikan segala yang dipunyai. Para lulusan sekolah dari kota merencanakan untuk membuat pertanian terpadu di kaki gunung dengan melibatkan seluruh penduduk Pengelolaan kaki gunung Itu dilakukan dengan gotong-royong. Pembangunan pabrik air mineral dan tekstil mulai dibuat orang kota. Saya waktu itu sudah meningkat remaja. 

Perselisihan antar penduduk mulai terasa ketika penggerak pembangunan yang merupakan lulusan sekolah dad kota itu merencanakan untuk membuka sebagian Gunung Beser, untuk perluasan lahan pertanian dan kebutuhan pabrik. Banyak penduduk yang tidak setuju. Akan tetapi, tidak sedikit yang mendukungnya. 

Saat ini adalah waktunya untuk membangun demi kemajuan. Kita tidak akan pernah bisa maju apabila masih takut dengan hal. hal yang tidak masuk akal? Begitu di antaranya kata-kata yang biasa diucapkan para penggerak pembangunan dan orang kabupaten yang memperjuangkan perluasan pabrik.

Apanya yang mesti ditakuti dari penghuni Gunung Beser? Mereka malah telah memberikan apa yang dipunyainya. Air yang melimpah, tanah yang subur, dan udara yang segar. Kita tidak bisa memanfaatkan kekayaan itu karena kita takut oleh hal-hal yang tidak perlu ditakutkan: kata mereka. 

Semakin banyak penduduk yang mendukung pembukaan Gunung Beser. Sebagian yang masih menghormati kharisma Gunung Beser, datang ke rumah Kakek. Mereka meminta pendapat Kakek. Saya tidak tahu apa yang Kakek katakan sebelum mereka pulang. Besoknya wakil dari panitia pembangunan itu datang ke rumah Kakek. Mereka tahu bahwa Kakek adalah kunci dari masalah ini. Penduduk yang tidak setuju dengan pembukaan Gunung Beser hanya akan mendengarkan apa yang dikatakan Kakek.

Saya tidak begitu jelas menangkap apa yang dibicarakan mereka. Akan tetapi, dari nada suara yang semakin meninggi, saya tahu bahwa mereka bersitegang. Saya mengintip peristiwa itu dari bilik kamar. Saya bersiap meloncat seandainya mereka melakukan kekerasan terhadap Kakek. Akan tetapi, kejadian yang saya lamunkan itu tidak terjadi. Mereka pulang setelah terlebih dahulu menyalami Kakek. Besoknya saya baru tahu bahwa Kakek menyetujui pembukaan sebagian Gunung Beser. 

"Saat ini saat sulit," kata Kakek ketika malamnya saya menanyakan kenapa Kakek menyetujui pembukaan sebagian Gunung Beser. "Semakin banyak kebutuhan hidup dan semakin banyak orang yang merasa pintar. Akan tetapi orang-orang pintar itu tidak tahu tentang kebijaksanaan. Mereka tidak sadar bahwa sebagian besar manusia yang ada di dunia ini adalah yang ada di bawah standar kepintaran. Kisah Mbah Jayasakti masih diperlukan untuk melindungi Gunung Beser

Saya kurang mengerti apa yang dikatakan Kakek. Ketika malam besoknya Kakek bercerita bahwa Mbah Jayasakti dan keangkeran Gunung Beser itu tidak ada. Saya semakin tidak mengerti dengan Kakek. Kalau begitu, kenapa tidak dari dulu Gunung Beser itu dibuka? 

"Gunung Beser akan marah kalau dibuka," kata Kakek. 

"Kan Mbah Jayasakti dan keangkeran itu tidak ada."

"Ya, tidak ada. Tapi, Gunung Beser tetap akan marah apabila dibuka."

"Kenapa Kakek menyetujui?"

"Mereka berjanji akan membuka sampai perbatasan kaki gunung saja."

Pembukaan kaki Gunung Beser Itu akan dilakukan dengan bergotong-royong. Bantuan tenaga dan dana besar dari pihak pabrik disambut masyarakat. Kejadian yang semakin langka itu ditandai dengan syukuran kampung yang dipimpin oleh pak bupati yang sengaja datang.tidak ada kejadian-kejadian aneh selama pembukaan kaki gunung. Tanaman pun tumbuh subur karena tanahnya subur dan air melimpah. Rumah-rumah dibangun karena pabrik-pabrik membutuhkan banyak peke4a yang sebagian besar didatangkan dari daerah lain. 

Para penggerak pembangunan itu mendapat pujian dari hampir seluruh penduduk kampung. Mereka dikabarkan di setiap pertemuan resmi dan tidak resmi. 

Kakek meninggal tidak lama kemudian. Kematian Kakek tidak mendatangkan perhatian yang besar dari penduduk. Saya sedikit cemburu kepada penggerak pembangunan yang sudah mencuri perhatian penduduk dari Kakek itu. Kecemburuan itu bisa diredam karena saya sudah masuk sekolah menengah mengagumi juga apa yang mereka lakukan. 

Keberhasilan pertanian dan pabrik itu memberi kemewahan tersendiri bagi kampung saya. Sarana-sarana umum dibangun. Banyak rumah memiliki pesawat televisi. Semakin banyak anak-anak yang meneruskan sekolah di kota. Kepercayaan bahwa keangkeran Gunung Beser itu tidak ada, mendorong penduduk untuk membuka Gunung Beser lebih jauh.Tempat-tempat pertanian baru dibuka, rumah-rumah dibangun, perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan mata air besar dibangun, pengelola Gunung Beser semakin banyak dimiliki orang. Pohon-pohon besar ditebang-Yang tidak punya izin, berdagang kayu sembunyi-sembunyi. 

Gunung Beser bercahaya siang malam. Sinar matahari memantul dari bangunan-bangunan dan daerah-daerah kering. Malam bercahaya oleh semaraknya listrik.Penduduk kampung. termasuk saya, menyambut kemajuan itu. Mereka, termasuk saya, tidak menyadari bahwa di kampung semakin terdengar berita adanya perkelahian petani gara•gara berebut air, para remaja putus sekolah kebingungan mencari kerja karena menggarap lahan pertanian yang semakin tidak subur itu terasa rendah, musim yang datang tidak lagi bersahabat. Tiba-tiba saya merasa bahwa hal seperti Itu bukan merupakan bagian dari kampung saya. 

Kekeringan di musim kemarau dan banjir-banjir kecil di musim hujan tidak lagi asing. Para penduduk tidak menyerah. Alam harus ditaklukkan. Kipas angin dan kulkas rnenjadi kebutuhan di musim kemarau. Bendungan-bendungan kecil dibangun untuk menanggulangi musim hujan. Tiba-tiba saya merasa bahwa persahabatan dengan alam menghilang dari kamus kampung saya. 

Perlawanan terhadap alam itu berakhir ketika tahun yang oleh peneliti itu disebut El Nino itu tiba. Kekeringan membakar kampung saya. Banyak bangunan dan lahan yang hangus. Saat musim hujan tiba banjir besar melanda. Rumah-rumah hanya kelihatan atapnya. Saya sedang duduk di atas atap rumah ketika bantuan puluhan perahu itu tiba. 

Saya hanya bisa mencatat peristiwa.peristiwa seperti itu tanpa mengerti apa yang telah terjadi. Seperti remaja lain di kampung, saya kebingungan dengan banyak hal. Satu hal yang pasti, kita harus lebih dekat bersahabat dengan alam agar alam lebih bersahabat dengan  kita. Pohon memang keramat, harus dihargai, dihormati, dijaga dipelihara. Tanpa pohon bernama akan Iebih sering terjadi menimpa kita. Mbah Jayasakti mestinya berubah menjadi kesadaran ilmu. Kakek benar, banyak orang cuma merasa pintar padahal tidak. 

Dimodifikai untuk kepentingan pembelajaran

Sumber: Kupu-kupu di Batimurung, Antologi Cerpen Remaja III, 2003:29-36

Unsur Intrinsik 

Tema : Modernisasi Keadaan Penduduk

Amanat : Kita tidak boleh menyekutukan Allah Swt. atau percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Kita juga harus menjaga dan melestarikan alam, sehingga alam mau bersahabat dengan kita. 

Alur : Campuran (maju dan mundur)

Tokoh dan Penokohan

  • Mbah Jayasakti : pemberani dan tidak mementingkan dirinya sendiri.
  • Pasukan Belanda dan centeng² demang : tidak menyerah.
  • Penduduk desa : jahiliyah/ percaya dengan hal² mistis.
  • Kakek : pemberani, bijaksana, dan suka menolong.
  • Para penggerak pembangunan : pintar tapi sebenarnya bodoh, egois.
  • Penduduk kota : pemalas.

Latar :  

  • Tempat : kampung, gunung beser, kaki gunung, rumah kakek, dan sawah.
  • Waktu : malam hari, pagi hari, sore hari, dan waktu panen.
  • Suasana : sejuk, asri, damai, rukun, senang, san terusik.

Sudut Pandang : sudut pandang pertama : aku.

Pak Guru
Pak Guru Mencintai Sastra Sama Halnya Mencintai Kehidupan

Posting Komentar untuk "Menyimpulkan Unsur-Unsur Cerita Pendek"

Langganan