Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penggunaan Tanda Koma yang Benar

Belajar Bahasa - Tanda koma merupakan salah satu tanda baca yang sangat lazim ketika penulisan dalam bahasa Indonesia. Tanda koma berfungsi untuk memisahkan antara satu hal dengan bagian lainnya sehingga tidak terjadi kesalahan makna pada saat membaca suatu kalimat/pernyataan maupun penulisan angka bilangan. Banyak ditemui kesalahan atau ketidak sesuaian dalam penulisan tanda koma.

Pengertian Tanda Koma

Menurut KBBI tanda koma adalah tanda baca (,) yang dipakai untuk memisahkan unsur dalam suatu perincian, memisahkan nama orang dari gelar akademik yang mengiringinya, memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi dalam kalimat, dan sebagainya

Penggunaan Tanda Koma Menurut PUEBI

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan, terdapat 14 penggunaan dari tanda baca koma, yaitu :

1. Digunakan untuk menuliskan unsur dalam suatu rincian atau bilangan.

Contoh :

  • Ibu pergi ke pasar membeli gula, beras, dan kacang. (benar)
  • Ibu pergi ke pasar membeli gula, beras dan kacang. (salah)
  • Ibu pergi ke pasar membeli gula dan beras. (benar)

Pembahasan: Jika yang dirincikan lebih dari dua item, maka sebelum kata dan harus didahului dengan tanda koma, sedangkan jika hanya dua item perincian, maka tidak perlu tanda koma sebelum tanda dan.

  • 3,14 X 100 = 314

2. Digunakan untuk memisahkan dalam kalimat setara 

Digunakan untuk memisahkan antara satu kalimat setara dengan kalimat setara berikutnya, yang diawali oleh kata-kata tertentu (tetapi, melainkan, sedangkan, kecuali).

Contoh :

  • Saya ingin sekali pergi ke Kota Surabaya, tetapi ibu tak mengizinkannya.
  • Itu bukan kepunyaanku, melainkan kepunyaan kakak.
  • Ayah bertugas membersihkan memotong rumput, sedangkan ibu menyapu ruang tamu dan ruang keluarga

3. Digunakan untuk memisahkan antar kalimat

Digunakan untuk memisahkan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, jika kedudukan kalimat tersebut berbeda (induk kalimat dan anak kalimat) kemudian kalimat yang berkedudukan sebagai anak kalimat berada sebelum/di depan induk kalimat.

Baca juga: Penggunaan Kata Sandang Si dan Sang

Contoh :

  • Jika Tuhan mengizinkan, kita pasti akan bertemu lagi di masa yang akan datang.
  • Andai kau tidak segera menarikku, mungkin aku sudah masuk ke jurang itu.
  • Karena ia menjadi juara satu, ia mendapat hadiah liburan dari orang tuanya.

4. Digunakan setelah kata ungkapan. 

Digunakan di belakang suatu kata atau ungkapan yang merupakan penghubung antar kalimat (oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, meskipun begitu), kemudian penghubung tersebut berada di awal kalimat.

Contoh :

  • Oleh karena itu, kau perlu berterus terang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
  • Jadi, kau harus segera menyelesaikan kesaalahpahaman ini agar keadaan tidak semakin kacau.
  • Dengan demikian, kau berhak mendapat promosi jabatan tahun ini.
  • Sehubungan dengan itu, aku ingin meminta maaf atas nama dia.
  • Meskipun begitu, kami tetap percaya bahwa dia akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

5. o, ya, wah, aduh, kasihan. 

Digunakan untuk memisahkan beberapa kata (o, ya, wah, aduh, kasihan) dari kata-kata lain yang berada dalam satu kalimat.
Contoh :

  • O, aku kira kau tidak jadi ikut.
  • Ya, aku mengerti bagaimana perasaanmu..
  • Wah, kau benar-benar pandai menghias mobil.
  • Aduh, aku lupa membawa dompet..
  • Kasihan, kakek itu harus tidur di bawah kolong jembatan karena rumahnya habis terbakar minggu lalu.

6. Penulisan kalimat langsung.

Digunakan untuk memisahkan kalimat petikan langsung dari potongan kalimat lainnya.

Baca: Kalimat langsung dan tak langsung

Contoh :

  • Dia berpesan padaku, “Jangan meletakkan barang berharga di sembarangan tempat”.
  • “Jangan pulang terlalu malam” kata Ayah saat aku pamit keluar rumah tadi sore.
  • “Sudahlah ikhlaskan saja, mungkin ini sudah menjadi takdir Tuhan”, Nia berusaha untuk menghiburku.

7. Memisahkan identitas. 

Digunakan untuk memisahkan antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, yang ditulis secara berurut.

Contoh :

  • Seminar itu diadakan di Gedung B Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Jalan Veteran, Malang.
  • Resepsi pernikahannya di Gedung Cempaka, jalan lestari Indah No 27, Kebon Jeruk, Rembang Barat.
  • Wisuda tahun ini dilaksanakan di Hotel Kartini, Ancol, Sulawesi Utara.

8. Penulisan tempat dan tanggal lahir. 

Digunakan untuk memisahkan tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah/negeri yang ditulis secara berurut.

Contoh :

  • Akta itu di tandatangani di Semarang, 28 Juli 1988
  • Aku lahir di Jakarta, 6 September 1990.
  • Dia di mutasi ke salah satu cabang perusahaannya yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.

9. Penulisan daftar pustaka. 

Digunakan untuk memisahkan penulisan nama penulis atau pengarang yang susunan namanya dibalik pada penulisan daftar pustaka.

Contoh :

  • Wahyuningsih, Sri. 2007. Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat.
  • Ayu, Dian. 2011. Merintis Usaha Antara Keterbatasan. Yogyakarta: Gudang Ilmu.
  • Arif, Muhammad. 2000. Penyebab Terjadinya Sesak Nafas. Bandung: Kreasi Kami.

10. Digunakan dalam penulisan catatan kaki.

Contoh :

  • Dian Ayu, Merintis Usaha Antara Keterbatasan. (Yogyakarta: Gudang Ilmu, 2011), hlm. 17.
  • Sri Wahyuningsih, Pelajaran Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pustaka Rakyat, 2008), hlm. 29.
  • Muhammad Arif, Penyebab Terjadinya Sesak Nafas. (Bandung: Kreasi Kami, 2000), hlm. 11.

11. Memisahkan nama dan gelar. 

Digunakan untuk membedakan antara nama dengan gelar, pada penulisan gelar akademik.
Contoh :

  • akhirnya Bapak Prayitno Adji, S.E., M.M. resmi mengundurkan diri dari jabatan rektor.Muhammad Fadil, S. Kom menjadi salah satu dosen terbaik untuk tahun ajaran 2015-2016.setelah menjabat selama 5 tahun,
  • Pasangan calon pengantin itu bernama Riani Sagita, S. Pd dan Adnan Khair, S.T.

12. Penanda rupiah 

Digunakan di depan angka persepuluhan atau antara rupiah dan satuan terkecil sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh :

  • Pada masa kecilnya nenek hanya diberi jajan sebesar Rp 20,50 oleh orang tuanya.
  • Tinggi pohon kelapa itu adalah 35,75 m.
  • Rumah kami memiliki luas sebesar 200,32 meter persegi.

13. Mengapit keterangan tambahan. 

Digunakan untuk mengapit keterangan tambahan dalam suatu kalimat yang sifatnya tidak terbatas.

Contoh :

  • Aku benar-benar salut dengan anak kecil itu, pintar sekali.
  • Kami sampai kehabisan kata-kata saat melihat pemandangan di pulau terpencil ini, sungguh indah.

14. DIgunakan di belakang keterangan. 

Digunakan di belakang keterangan yang berada di awal kalimat yang bertujuan agar tidak terjadi kesalahan saat membaca dan memahami maksud kalimat.

Contoh :

  • Untuk membatasi penumpang yang membludak ketika masa liburan, pihak penyedia berbagai transportasi menaikkan harga tiket.
  • Dalam keadaan yang serba kekurangan ini, kita tidak boleh cepat menyerah dan pasrah pada keadaan.

15. Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan suatu petikan langsung dalam satu kalimat. 

Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan suatu petikan langsung dalam satu kalimat, jika petikan langsung itu diakhiri dengan tanda tanya (petikan langsung berupa kalimat tanya).

Contoh :

  • “Bolehkah aku ikut berlibur ke puncak dengan keluarga Lia?” tanya Diah kepada ibunya. (benar)
  • “Apakah aku bisa menjadi seperti ayah saat dewasa nanti?” aku bertanya pada ayah. (benar)
  • “Bolehkah aku ikut berlibur ke puncak dengan keluarga Lia?,” tanya Diah kepada ibunya. (salah)
  • “Apakah aku bisa menjadi seperti ayah saat dewasa nanti?,” aku bertanya pada ayah. (salah)
Pak Guru
Pak Guru Mencintai Sastra Sama Halnya Mencintai Kehidupan

1 komentar untuk "Penggunaan Tanda Koma yang Benar"

  1. Ibu pergi ke pasar membeli gula, beras, dan kacang. (benar)
    Ibu pergi ke pasar membeli gula, beras dan kacang. (salah)

    Nomor 2 ini terkadang suka keliru, Pak Guru. Sering juga saya temukan di banyak artikel di Platform Kompasiana. Hehehe. Salam

    BalasHapus

Langganan